Cobalah Lihat ke Atas, Ada Bayang Bung Karno di Sana, Menitipkan Negeri Ini Pada Kita…:)

 

Kawan, ingatkah kawan dengan pesan Bung Karno kepada kita? Beliau berpesan, “Saya titipkan negara Indonesia kepadamu!”

Ya, Negara yang dengan tumpahan darah serta air mata bisa merdeka, telah dititipkan pada kita. Kau tahu artinya kawan? Kitalah yang akan membesarkannya, mengharumkannya, membawanya selalu di hati kita, kemanapun kita pergi, dimanapun kita menginjakkan kaki dan di tangan kitalah masa depan negeri ini akan di bawa. Maaf kawan, asal kau tahu saja, ini bukan hanya tugas para pahlawan negeri ini, bukan hanya tugas pak Presiden dan menteri-menterinya,  bukan hanya tugas para kontingen Indonesia yang berjuang mendapatkan medali di perlombaan tingkat Internasional, tapi itu sudah menjadi tugas kita. Siswa-siswi SMA N 1 Pekalongan, mahasiswa di semua perguruan tinggi di Indonesia, dan semua pelajar di negeri kita ini.

 

Kawan, bolehkah saya bertanya, Sudah berapa tahun Indonesia merdeka? 66 tahun kalau saya tak salah hitung. Apakah kawan-kawan yakin Indonesia kita telah merdeka?

Sekarang lihatlah apa yang saya kutip ini kawan,

  • Depdiknas mencatat jumlah pengangguran terdidik 961.000 orang dan dari jumlah tersebut 598.000 lebih berstatus sarjana (Seputar Indonesia 25 Februari 2009)
  • Sekolah kejuruan diprioritaskan dan targetkan komposisi SMK adalah 60% (Seputar Indonesia 27 Maret 2009)
  • Peminat ke SMK naik karena lebih cepat mendapatkan kerja dibandingkan SMA (Kompas 22 Juli 2009)
  • Kurang dari 25% yang lulus Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri 2009 (republika 31 Juli 2009)
  • Lebih dari 600 ilmuwan Indonesia saat ini bekerja di luar negeri (Kompas 13 Juli 2009)
  • Perguruan Tinggi Indonesia saat ini memiliki 30.569 peneliti yang mana terdiri dari 7.611 peneliti di 144 Falkultas, 13.281 peneliti di 33 lembaga penelitian, 8.164 peneliti di 36 lembaga pengabdian masyarakat dan 1.513 peneliti di 14 politeknik (Kompas 14 Juli 2009) tapi Indonesia tidak mampu membiayai kegiatannya.
  • Daftar 2.000 lembaga riset dunia terbaik versi Webometrics menempatkan 3 lembaga riset Indonesia yaitu Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (ke 201), Centre for International Forest research (ke 425) dan Badan Penelitian Pengembangan Departemen Pertanian (ke 775) (Kompas 24 Agustus 2009)
  • Publikasi Internasional ilmuan Indonesia yaitu 0.8 artikel persejuta penduduk. Sedangkan negara tetangga seperti India dan Malaisia adalah 12.3 dan 23 artikel persejuta penduduk. (Kompas 20 Agustus 2009)
  • Dari sekitar 400 jurnal ilmiah yang diterbitkan perguruan tinggi dan profesi, baru sekitar 116 jurnal ilmiah yang terakreditasi nasional dan 9 jurnal ilmiah yang terakreditasi internasional (Kompas 20 Agustus 2009)
  • Indonesia kekurangan Doktor. Saat ini lebih kurang baru 10.000 Doktor (Seputar Indonesia 28 Agustus 2009).

 

Kemudian saya ingin bertanya, bagaimana dengan foto ini?


Atap ruang kelas harus disangga dengan tiang agar tidak roboh. Apakah tak terbersit sebuah ketakutan dalam diri anak kecil penerus bangsa ini dengan keadaan ruang kelas mereka yang memprihatinkan? Di setiap detik perjalanan waktu belajar mereka, ada sebuah bahaya yang mengintai mereka. Bahaya yang siap menjatuhkan dirinya ke atas mahluk kecil itu…

 

Mereka belajar dengan keadaan yang seadanya; 1 buku untuk 3 anak, satu bangku untuk 3 anak. Lihat pula bagaimana atapnya…
Bagi mereka, belajar di luar ruangan bukan masalah. Mereka tak menangis meski bersekolah tanpa sepatu. Mereka tak mengeluh tak mempunyai buku pelajaran. Namun saya yakin pasti terbersit keinginan dalam hati mereka untuk bersekolah dengan keadaan yang lebih baik…

Apa yang kawan rasakan sekarang?

Saya yakin, kawan-kawan semua sudah tidak asing dengan berita-berita itu. Ini masih satu dari berbagai masalah pelik lainnya yang mendera tanah air kita.

Kawan-kawan, sungguh ini tugas yang berat yang tidak bisa dipikul oleh segelintir orang apalagi kita yang hanya “calon mahasiswa” yang tidak punya kewenangan sedikitpun untuk mengubah kurikulum dan wajah pendidikan Indonesia secara instan. Semua butuh proses yang tentunya berawal dari kesadaran kita masing-masing. Kesadaran untuk cepat-cepat membuka mata dengan lingkungan sekitar kita yang kurang beruntung, kesadaran untuk bersyukur karena kita bisa lebih beruntung dari mereka, kesadaran untuk saling berbagi ilmu karena sudah banyak ilmu yang kita dapat maka harus banyak pula ilmu yang kita bagi, kesadaran untuk bertekad bersama dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa Indonesia.

Kegiatan belajar nanti yang Insya Allah akan kita dapatkan di tempat yang baru memang sepertinya akan melelahkan kawan-kawan.Ombak yang akan kita hadapi jauh lebih besar dari ombak di SMA. Namun, demi Indonesia, hey kawan-kawanku yang di UI, ITB, UGM, UNS, IPB, UNNES, dan di manapun kalian meneguk belanga ilmu, betapapun sulitnya badai yang kau hadapi, tetaplah tersenyum, lihat ke langit kita, ada bayang Soekarno yang berkata, “AKU TITIPKAN NEGARA INDONESIA KEPADAMU!”

Tidak peduli almamatermu,

Tidak peduli warna jaketmu,

Tidak peduli siapa nama rektormu,

Walaupun visi kita berbeda tetapi Kita punya misi yang sama, mengharumkan nama Indonesia!!

Bagi kalian yang berniat melanjutkan study ke luar negeri, kembalilah setelah ilmu yang kau kejar sudah kau dapat, kembalilah ke pangkuan ibu pertiwi karena di sini, ibu pertiwi benar-benar mengharap kau kembali untuk ikut membangun tanah air kita…

Saya yakin bangsa Indonesia adalah bangsa yang cerdas. Sudah sangat banyak buktinya. Namun, Indonesia tidak hanya membutuhkan pribadi yang cerdas tapi juga bermoral. Bahaya sekali kalau di negeri kita ini hanya ada orang yang cerdas tapi tidak bermoral. Korupsi dan kriminal akan semakin wajar kita jumpai. Dengan mengingat perjuangan pahlawan dengan jiwa dan raganya meraih kemerdekaan Indonesia, semoga kita selalu punya malu ketika misi kita mulai melenceng dari misi awal kita. So, saatnya kita mencerdaskan dan memoralkan kehidupan bangsa…

Semoga, dari generasi kita ini muncul Ki Hajar Dewantara baru, Soekarno Soekarno baru, dan juga Habibie Habibie baru. Kalau saja Indonesia ini mempunyai hati, mungkin Indonesia saat ini sedang menangis merindukan datangnya pahlawan-pahlawan baru. Dan dari kitalah pahlawan itu akan lahir…

Semoga lampiran ini bermanfaat juga. Ini adalah tulisan dari salah seorang legenda ITB
(Alm) Sigit Firmansyah, elektro 2001

Malam ini saya bertemu dengan seorang kawan yang bercerita tentang academic excellent, mimpi-mimpi yang kini telah mulai hilang dari kampus kami dan juga semangat kerja keras yang mulai luntur. Kami berbagi kesedihan dan keprihatinan tentang mutu pendidikan yang makin turun, IPK adik-adik kami mahasiswa TPB yang makin rendah, mahasiswa TPB yang mulai suka main kartu di TVST, soal ujian Kalkulus yang makin mudah dari tahun ke tahun dan juga mahasiswa yang mulai kuliah dengan tidak serius. Apa yang salah dengan kampus ini? Kami rindu akan kampus yang dipenuhi dengan orang-orang yang dengan penuh ambisi akademik ingin selalu belajar, belajar dan belajar. Kami rindu akan ruang-ruang perpustakaan yang dipenuhi orang, namun tenang penuh keseriusan. Kami rindu bertemu mahasiswa dengan pakaian sopan sederhana, yang uang dan waktunya telah tercurah untuk buku dan ilmu. Bagi kami, ITB hampir-hampir kehilangan satu-satunya aset terpenting yang seharusnya dimiliki yaitu : “lingkungan akademik”. Lingkungan akademik yang terpancar mulai dari segenap penjuru bolevard, pojok-pojok kantin hingga laboratorium dan ruang kuliah. Penjuru kampus harusnya dipenuhi dengan manusia-manusia dewasa yang berinteraksi layaknya kaum intelektual, berdiskusi dan bercerita tentang mimipi-mimpi teknologi. Bukan penindasan dan pembodohan. Kampus ini sepertinya telah kehilangan orang-orang yang ketika pertama kali menginjakkan kampus mempunyai mimpi tentang membuat robot dan roket. Kampus ini sepertinya telah kehilangan orang yang dikepalanya dipenuhi mimpi-mimpi tentang mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Telah hilang orang-orang yang mau memberikan segalanya untuk belajar. Kami tsayat suatu saat nanti kampus ITB, menjadi tidak
lebih dari seperti SMU-SMU biasa yang berstatus sebagai perguruan tinggi, namun isinya tetap saja
mahasiswa-mahasiswa gaul sok borjuis yang sama sekali tidak memiliki etos kerja keras. Kalau kampus kita sudah seperti itu, jangan sebut lagi kampus ini dengan sebutan Institut Teknologi!
Kami yakin bahwa kebesaran bangsa ini, salah satunya dibangun dari kampus ini, dan itu adalah kenyataan sedih yang harus dihadapi. Kami berdoa semoga mimpi buruk ini tidak pernah terjadi…..
Dan saya mohon siapapun yang membaca tulisan ini, turut mengaminkan doa kami. Kami ingin yang membaca tulisan ini bersama kami mengaminkan doa ini dengan tangan, kaki, cucuran keringat dan air mata. Mengaminkan dengan penuh kesungguhan yang juga disertai kerja keras dan konsistensi. Tidak sekedar amin dalam kata-kata. Karena, ….ITB adalah saya, kamu, kami dan kita. Kelak kebesaran dan prestasi ITB adalah untuk Indonesia tercinta.”

 

Walaupun saya tidak bersekolah di ITB saya tetap suka dengan tulisan di atas. So inspiring kawan.:)

Maafkan saya karena telah mengutipnya untuk tulisan saya.

Semoga semakin banyak yang membacanya akan semakin banyak pula calon-calon mahasiswa yang tersadar dengan misi kita bersama…:)

 

 

TITIK BALIK

Kemarin aku dapet kuliah yg sangat berharga dalam hidupku. Semoga dengan tulisan ini aku bisa merangkum setidaknya 75% dari semuanya. Ini beda guys, ini bukan kuliah mengenai kimia pangan atau biokimpangdas yang bikin otak berasa full abis, tapi ini kuliah 40 menit dari seseorang. Dia ITP 47 dari pekalongan juga jadi kita lumayan deket. Aku dapat banyak hal dari dia. Aku sekarang yakindia orang yang baik, yang gak sepatutnya aku jelek-jelekin dibelakangnya. Hmm, kemarin pagi dia mungkin iseng sms aku nanyain tentang keikutsertaanku di BEM MUDA FATETA. Mentoknya aku sms, curhat apa yang aku rasain, aku stress, pengen pulang, pengen teriak, pengen nangis. Itu semua membawa kami bertemu di jam setengah 5, sapta darma fateta. Dia nyeramahin aku banyak hal, aku gak banyak bicara. Aku diem dan berkata dalam hati, “yes, you’re right” diulang-ulang. Dia tau bener apa yang aku rasain. Dari dia aku tahu banyak hal:

1.       Setiap orang tu gk punya yang namanya titik jenuh. Kalau reaksi kimia mah itu karena kita kurang suhu. Suhu dalam diri kita artinya kita kurang berkobar semangatnya.

2.       Kurangi kontak dengan orang di rumah. Sms seperlunya aja. Semakin sering kontak dengan orang rumah, kita semakin rindu, semakin pengen pulang ke rumah.

3.       Gk usah mikirin orang lain, cukup cari 2-3 orang buat jadi sahabat kamu. Sahabat yang memberi semangat, punya banyak pengalaman, bisa berbagi tawa, bukan sahabat yang malah jadi benalu.

4.       Kunci kesuksesan itu gak ada. Tapi Kunci kegagalan adalah berusaha menyenangkan hati semua orang. ITU BENER BANGET DEH! Kita gak akan pernah bisa seperti itu, maka cobalah tegas!!

5.       Awali semua dengan baik maka seterusnya akan baik.

6.       Kalau setengah-setengah mending gk usah sekalian!

7.       Ingat orang yang berkorban banyak untukmu, jadikan itu semangat!

8.       Ketika kamu down, ingatlah MASA DEPAN. Semua yang kita lakukan untuk masa depan kita.

9.       Jangan pernah mundur dengan apa yang udah kamu mulai. Kamu pantes buat disebut berharga, pengecut, pecundang, dan bonus rapot merah selamanya di capkan di hidupmu. Orang gk akan percaya lagi sama kamu.

10.   Jangan selalu terlalu baik dengan orang lain. Kadang kita perlu untuk berpikir masa bodoh dengan perasaan dan sikap orang lain terhadap pribadi kita, dengan seperti itu kita bisa menyeleksi mana teman yang benar-benar setia sama kita.

11.   Dia punya tiga kepribadian yang sungguh bertolak belakang satu sama lainnya. Satu, di saat dia harus bersikap di depan orang banyak. Dua, di saat dia berbicara dari ke hati dengan orang lain yang dekat dengan dia. Tiga, di saat dia sendiri.

12.   Kunci dari sebuah group yang solid adalah ketegasan. Buatlah sebuah perjanjian, A maka A dari awal sampai akhir.

13.   Inget, kita bener-bener gak punya waktu buat nge galau, nggak produktif, dan males-malesan aja. Ada banyak hal yang dapat dan harus kita lakukan.

14.    Kenali dirimu, apa yang dapat membuatmu semangat lagi, mungkin jalan-jalan ngehabisin uang, atau apalah…itu gak apa-apa.

15.   Jangan pernah menutup diri untuk banyak berteman tapi jangan terlalu mengorbankan diri untuk orang lain sebelum diri kita benar-benar cukup baik untuk diabaikan sesaat.

16.   Sibukkan dirimu dengan apapun. Dengan banyaknya waktu luang kau akan semakin tidak produktif.

17.   Ikatlah tali persaudaraan dengan setiap temanmu. Jalinlah selalu hubungan yang baik. Tidak ada salahnya sekali-kali menraktirnya makan, minum, atau jajan.

Makasi banget semangatnya. Hmm, semoga ini bisa jadi titik balik dari perjalanan hidupku. Sekarang aku janji gk akan galau lama-lama lagi. Aku mau berubah jadi lebih baik, bahkan lebih baik dari dia agar suatu saat aku bisa berbagi semangat untuk orang-orang yang aku sayang… :)
untuk orang-orang yang selalu semangat, sampai bertemu di puncak kesuksesan…

Bangga Banget Jadi Anak IPB, ting…

IPB Badge

Category: Image IPB  Tags: , ,  Leave a Comment

IPB Badge

Pelatihan Sore

Belajar IT bareng anak-anak kyu kyu-9 ^^

kunjungi web ipb ya….:)

belajar download file panduan_blogstudentipbacid

 

Category: Lecture  Leave a Comment

Kondisi Pertanian Indonesia


Bagaimana dengan Pertanian Indonesia saat ini? Mari kita lihat. Menurut berita dari TEMPO, prestasi pertanian Indonesia cukup baik. Selama berpuluh-puluh tahun ketersediaan pangan, baik dihitung dari ketersediaan energi maupun protein, amat membanggakan. Produksi padi, jagung, ubi kayu, kacang tanah, ubi jalar, gula, telur, susu, daging, dan minyak sawit mentah terus meningkat. Suplai sejumlah pangan impor tak ada masalah. Artinya, ketersediaan pangan dari impor juga jauh dari cukup.  Pada gilirannya, situasi sosial jauh dari ancaman guncangan keresahan akibat gangguan pangan. Benarkah? Teori tersebut tidak benar dalam kenyataan. Dalam buku Inequality Reexamined (1992), pemenang Nobel Ekonomi 1998, Amartya Sen, mengatakan bahwa meskipun pangan berlimpah, tidak otomatis bisa diakses warga, terutama warga miskin. Dari sinilah terlihat masalah pertanian di Indonesia.

Pertama, masalah kemiskinan dan rawan pangan. Sebagai produsen, petani adalah salah satu kelompok paling rawan pangan. Ini terjadi karena orientasi terlalu berat pada produksi, bukan kesejahteraan. Meskipun produksi meningkat, tidak serta-merta membuat petani sejahtera. Indikatornya bisa dilihat dari kemiskinan. Itu artinya pembangunan selama ini tidak menyejahterakan, tapi justru meminggirkan warga pedesaan, dan membuat rawan pangan.

Kedua, masalah pertumbuhan. Terjadi kesenjangan yang cukup tajam antara subsector perkebunan dan kehutanan dengan subsektor tanaman pangan dan peternakan. Kondisi itu menjadi masalah serius karena sampai saat ini 43 persen tenaga kerja justru menumpuk di sektor pertanian, terutama subsektor tanaman pangan. Kondisi ini, sekali lagi, menjebak petani pangan dalam kubangan kemiskinan.

Ketiga, masalah ekspor-impor. Indonesia adalah pengekspor bahan pangan, yang terbesar dari hasil perkebunan, seperti CPO, kakao, teh, kopi, dan aneka rempah-rempah. Padahal, dengan lahan luas, iklim cocok, dan plasma nutfah berlimpah, Indonesia berpotensi jadi pemberi makan dunia (feed the world). Ini mengindikasikan ada yang salah dalam pengelolaan pertanian, terutama subsektor tanaman pangan, hortikultura, dan peternakan.

Defisit itu identik dengan impor. Meskipun produksi padi, jagung, dan gula naik, sampai saat ini kita belum bisa keluar dari ketergantungan impor sejumlah pangan penting: susu (90 persen dari kebutuhan), gula (30 persen), garam (50 persen), gandum (100 persen), kedelai (70 persen), daging sapi (30 persen), induk ayam, dan telur. Ironisnya, impor tersebut sepertinya tidak ada tanda-tanda berakhir, bahkan cenderung membesar. Ini menunjukkan harga pangan semakin mahal. Pertambahan penduduk, tarikan pangan untuk bahan bakar, dan gagal panen akibat perubahan iklim akan membuat harga pangan dunia terus melonjak. Ironisnya, kecuali gandum, pelbagai pangan impor itu sebenarnya bisa diproduksi sendiri.

Tanpa kebijakan tegas, terukur, dan berdimensi jangka panjang, masalah pertanian akan terus terjadi, dan salah kelola pertanian-pangan akan berlanjut tanpa koreksi. Agar paradoks itu tidak berlanjut, ada sejumlah langkah mendesak. Pertama, menggeser orientasi, dari semata-mata produksi ke kesejahteraan. Caranya, memastikan sumber daya alam (tanah, air, hutan, dan lain-lain) ada dalam kontrol petani/komunitas lokal. Kedua, sumber daya itu harus dimanfaatkan untuk memproduksi aneka pangan lokal sesuai dengan keanekaragaman hayati dan kearifan lokal. Fokus kebijakan harus digeser, tak hanya beras, tapi juga pangan nonberas. Ketiga, mendahulukan produksi aneka pangan yang bisa ditanam sendiri ketimbang impor. Keempat, merancang ulang pasar pertanian-pangan. Liberalisasi kebablasan harus dikoreksi. Pada saat bersamaan, harus dikembangkan perdagangan yang adil (fair trade), terutama buat petani, dan mendorong pasar lokal.

AYENDHA KUKUH P.

F24110099

LASKAR 8

Kondisi Pertanian Daerah Kabupaten Pekalongan


Sektor pertanian merupakan kontributor terbesar ketiga bagi produk domestik regional bruto (PDRB) Kabupaten Pekalongan. Oleh karena itu Bupati Pekalongan pada Tahun 2010 telah merencanakan untuk menjadikan sektor pertanian sebagai prioritas utama dalam pembangunan di masa mendatang. Namun, di tahun ini pemerintah kabupaten seharusnya memberikan perhatian lebih di sektor pertanian karena Meski sektor ini sangat penting bagi kehidupan masyarakat, masih ada produk unggulan yang luput dari perhatian. Agaknya cuaca ekstrem yang tidak menentu menjadikan sektor pertanian di daerah ini mengalami penurunan jumlah produksi pertanian. Lahan pertanian banyak yang rusak dan akhirnya banyak hasil pertanian seperti padi, jagung, dan kedelai mengalami puso. Selain itu banyaknya hasil pertanian impor yang secara bebas bisa masuk ke kabupaten Pekalongan menjadikan harga bahan pokok hasil pertanian kian melonjak. Diperkirakan masalah inilah yang akhirnya berdampak pada tingginya angka kemiskinan dan pengangguran di Kabupaten Pekalongan.

Padahal kabupaten Pekalongan adalah kabupaten yang mempunyai banyak produk pertanian yang dapat diunggulkan dan siap bersaing dengan daerah lain. Kenapa kita tidak pernah ikut lomba buah-buahan, padahal kami siap untuk bersaing dengan daerah lain. Saya minta Pak Bupati tahun ini mengikutsertakan kami dalam perlombaan buah,” ujar salah seorang petani kepada Bupati Pekalongan Drs H Amat Antono dalam dialog Kelompok Tani dan Nelayan Andalan (KTNA), beberapa waktu lalu.

Lontaran dalam dialog itu adalah salah satu bukti optimisme dari para petani bahwa mereka punya produk unggulan yang bisa bersaing dengan produk dari daerah lain. Selain komoditas utama pertanian berupa padi dan palawija, Kabupaten Pekalongan memang mempunyai potensi pada komoditas lain, yaitu buah-buahan. Secara keseluruhan produksi buah-buahan pada tahun 2004 lalu bahkan menempati peringkat pertama. Beberapa komiditas unggulan yang telah dikenal di antaranya durian, mangga, pisang, dan rambutan.

Beberapa daerah bahkan bisa menjadi sentra produksi buah di tingkat Jateng jika dikembangkan secara maksimal seperti Kecamatan Doro, Talun, dan Karanganyar yang dikenal sebagai pusat durian. Salah satu durian paling dicari adalah durian Kartono yang dikenal sangat enak. Saking enaknya, durian jenis itu paling murah dipatok pada harga Rp 100.000/buah.

Selain itu masih banyak komoditas buah-buahan yang menjadi produk unggulan daerah lain di Kabupaten Pekalongan. Kecamatan Karanganyar, Doro, dan Talun juga merupakan pusat produksi rambutan. Kecamatan Siwalan, Wonopringgo, Wiradesa, Bojong, Kesesi, Tirto, Wonokerto, dan Buaran adalah sentra produksi mangga. Sementara itu hampir seluruh wilayah Kabupaten Pekalongan yang ada di sekitar jalur pantura merupakan wilayah penghasil pisang. Belakangan, Kabupaten Pekalongan juga dibanjiri produksi salak, semangka, manggis dan melon. Bahkan, produksi manggis dari petani Paninggaran yang belum lama dibudidayakan telah menembus pasaran di luar negeri yaitu Taiwan, Cina dan Jepang.

Di samping buah-buahan, kabupaten Pekalongan juga menjadi salah satu kabupaten yang ditunjuk pemerintah Provinsi jawa Tengah sebagai produsen gula terbesar di Jawa Tengah. Gubernur Jawa Tengah, Bibit Waluyo melakukan kunjungan kerja (kunker) ke Pabrik Gula Sragi, Kamis (4/8) kemarin. Kedatangannya guna memastikan rencana Jateng bisa swasembada gula pada tahun 2013.

Melihat fakta tersebut, tidak berlebihan jika kemudian para petani berharap mendapatkan peningkatan kesejahteraan dari sektor pertanian, khususnya buah-buahan dan sayuran. Apalagi dari penuturan berbagai pihak, potensi unggulan buah di Kabupaten Pekalongan belum optimal dikembangkan.

Menyadari pentingnya penataan dan pendataan potensi hasil pertanian di Kabupaten Pekalongan yang bisa menjadi komoditas unggulan daerah, Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Pekalongan tahun ini telah mempogramkan penyusunan wilayah komoditas pertanian atau Agro Ekological Zone (AEZ). Selain itu, program lain yang tidak kalah penting juga akan dilaksanakan seperti pengembangan produksi, pemberantasan hama, pengadaan sarana-prasarana pertanian, promosi produk pertanian, kebun percontohan, dan pemberdayaan kelompok tani.

 

AYENDHA KUKUH PANGESTI

F24110099

LASKAR 8